Senin , 15 Oktober 2018

Dapat bonus akhir tahun? Jangan biarkan berlalu tanpa kesan

Bagi kamu yang kerja kantoran dan berkinerja baik, menyambut pergantian tahun berarti juga harap-harap cemas menunggu untuk mendapatkan bonus dalam rangka penghargaan oleh perusahaan atas prestasi kamu bekerja selama setahun penuh. Meskipun terdengar menarik, namun kamu harus tetap berhati-hati dalam mengelola bonus tahunanmu lho! Jangan biarkan diri kamu memperlakukan bonus ini seperi uang kaget, yaitu langsung nggak bisa menahan diri untuk beli ini-itu yang nggak terlalu penting atau mungkin nggak penting sama sekali.

Nggak mau, dong, uang bonus yang kamu dapatkan tadi berasa seperti seperti angin yang bertiup alias cuma ‘mampir’? Nggak toh.

Menurut Richard Thaler  (pemenang hadiah nobel tahun 2017 di bidang ekonomi), kebanyakan orang sering terkenabias mental accountingMental Accounting adalah upaya seseorang untuk mendeskripsikan proses, mengkodifikasi, mengkategorisasi dan mengevaluasi aktivitas keuangannya. Hasilnya adalah seseorang dapat memperlakukan sejumlah uang dengan cara yang berbeda, apabila ia sudah memisahkannya ke dalam kategori-kategori tertentu.

Untuk memahami apa itu Mental Accounting, mari simak 2 kasus berikut ini:

Bayangkan jika kamu punya uang Rp.100.000,- dan ingin menonton film favoritmu di bioskop dengan harga tiketnya Rp.40.000,-

Kasus I: kamu sudah membeli tiket tersebut sebesar Rp.40.000,- maka uang yang tersisa di kantong celanamu adalah Rp.60.000,- lalu tiba-tiba tiketmu hilang sehingga kamu tidak bisa menonton film tersebut. Maka kemungkinan besar kamu tidak akan membeli ulang tiket tersebut, karena asumsi kamu jika kamu membeli ulang tiket tersebut maka harga tiket tersebut seolah-olah Rp.80.000,-

Kasus II: ketika kamu hendak membeli tiket tersebut, kamu sadar bahwa uangmu telah hilang Rp.40.000,- dari kantong celanamu, sehingga uangmu sisa Rp.60.000,- maka kamu tetap membeli tiket tersebut karena kamu beranggapan bahwa uang yang hilang tersebut tidak ada kaitannya dengan penganggaran/ pengalokasian beli tiket film sebesar Rp.40.000,-

Keadaan-keadaan seperti kondisi pertama dimana tiket tersebut hilang, dapat mengakibatkan timbulnya the pain of buying untuk membeli tiket yang barusehingga kamu enggan mengeluarkan uang lebih karena kamu telah menempatkan sejumlah uang tersebut pada suatu ‘pos’ tertentu dalam benakmu sebelumnya. Dalam keadaan seperti ini, mental accounting baik digunakan untuk memicu self control dalam hal pengelolaan keuangan.

Meskipun terlihat rasional, ternyata kadang kategori yang dibuat dalam benak manusia ini bisa menjadi bias dan menyesatkan. Contohnya dalam kasus menerima unexpected money seperti uang BONUS, sebagian besar manusia memiliki tendensi untuk membelanjakannya dan menikmatinya saat itu juga, terlebih untuk membeli barang-barang yang umumnya tidak dapat mereka beli dengan pendapatan rutin/ bulanan. Misalnya, untuk berbelanja pakaian bermerek, pergi liburan mewah, membeli gadget keluaran terbaru, mentraktir teman, dan lain sebagainya.

Mengapa bisa demikian? Karena manusia memiliki anggapan dalam benak mereka bahwa uang tersebut merupakan sebuah “hadiah”, karena berada terletak di luar pendapatan rutin yang seharusnya mereka terima. Sehingga cenderung timbul keinginan dari benar manusia untuk menggunakannya dengan cara yang “spesial”.

Sebenarnya, menggunakan uang bonus untuk membeli suatu keginan memang tidak menjadi masalah bila kamu memang sudah mengalokasikan dananya terlebih dahulu, dengan catatan: jangan berelebihan! Namun, akan lebih baik jika kamu menyikapi uangmu dengan cara menyusun skala prioritas. Coba cermati tulisan di bawah ini. Sadari bahwa akan lebih bijak jika kamu menggunakan uang bonusmu dengan mengingat “TKI”, yaitu lunasi Tagihan, dahulukan Kebutuhan, dan Investasi, dengan penjelasan sebagai berikut:

  1. Melunasi tagihan.

Jika kamu mencicil suatu barang dan/ atau jasa menggunakan kartu kredit, bukankah lebih baik uang bonusmu digunakan untuk melunasi utangmu? Semakin cepat lunas , semakin cepat lega. Sebaliknya, sebagian besar orang lebih memilih untuk menyicil setiap bulan dengan bunga kartu kredit yang cukup besar. Bayangkan saja, jika bunga kartu kreditmu adalah 2%-3% per bulan, maka kamu harus membayar bunga sebesar 24%-36% per tahun!

  1. Mendahulukan kebutuhan.

Selalu ingat rumus “Kebutuhan > Keinginan”!

Tapi, apa sih bedanya kebutuhan dan keinginan? Kebutuhan harus ada untuk melanjutkan keberlangsungan hidupmu, seperti: makanan dan transportasi. Berbeda dengan kebutuhan, keinginan yang tidak dipenuhi tidak akan mengganggu keberlangsungan hidupmu, misalnyatas bermerek, gadget baru, dan lain sebagainya. Ada berbagai cara agar kamu tidak tergoda untuk memenuhi keinginan, misalnya hindari cuci mata di mall agar tidak tergoda untuk berbelanja, atau jangan sering nongkrong di café agar tidak tergoda untuk banyak jajan.

  1. Investasi

Selalu alokasikan dana untuk berinvestasi. Sudah tahu kan, dengan adanya inflasi, menabung saja menjadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan di masa depan. Barang yang memiliki harga  Rp100.000,- hari ini, bisa saja berharga Rp200.000 dalam jangka waktu 5 tahun ke depan.

Selain mengelola uang bonus dengan bijak, ada baiknya jika kamu mengikuti tips berikut agar terhindar dari jebakan bias mental accounting:

  1. Jika kamu punya tujuan keuangan jangka panjang, maka tentukan pencapaiannya secara periodik (misalnya bulanan), dengan cara tersebut maka kamu bisa kontrol apakah rencanamu sesuai dengan tindakanmu demi mencapai tujuan keuanganmu.
  2. Catat semua pengeluaranmu sehingga kamu bisa melakukan refleksi diri terhadap sikapmu dalam mengelola keuangan. Lebihsimple dengan menggunakan fitur Rencana Keuangan pada aplikasi Sikapi Uangmu yang bisa diunduh secara free melalui App Store dan Play Store!

Jika disertai dengan niat, semua keinginan pasti bisa tercapai. Ingin hidupmu terus tenang dan bahagia? Sikapi uangmu dengan bijak. Cerdas mengelola, masa depan sejahtera!

Check Also

Ngga mau pengajuan kredit ditolak?

Pernah ngga sih mendengar kalau ada orang yang pengajuan kredit nya ditolak? Ngga mau kan jadi salah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.